26 Oktober 2026
Oleh: Prof. Dr. Sukewati Lanang Putra Perbawa, S.H., M.Hum.
Rektor Universitas Mahasaraswati Denpasar
Pembangunan Bali tidak cukup hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan kemajuan infrastruktur. Lebih dari itu, pembangunan harus memiliki arah moral, berakar pada kebudayaan, serta berlandaskan kesadaran spiritual yang menempatkan manusia dan alam sebagai satu kesatuan kehidupan. Pemikiran tersebut menjadi refleksi Prof. Dr. Sukewati Lanang Putra Perbawa, S.H., M.Hum., Rektor Universitas Mahasaraswati Denpasar, dalam tulisan bertajuk “Spiritualitas sebagai Kompas Pembangunan Bali”.
Pada Minggu, 25 Oktober 2026, bertepatan dengan Purnama Sasih Kelima, Wuku Watugunung, dan Kajeng Kliwon, Rektor Unmas Denpasar mengunjungi Desa Sembiran, salah satu desa tua di Bali yang menyimpan jejak peradaban leluhur. Dalam kesempatan tersebut, ia diterima dengan hangat di kediaman Gubernur Bali, Wayan Koster. Suasana kekeluargaan yang kental dengan nuansa tradisi mengawali perjumpaan yang bermakna tersebut.
Pertemuan yang berlangsung selama lima puluh menit itu menghadirkan diskusi mengenai masa depan Bali, terutama pentingnya kemandirian bahan bakar minyak (BBM), listrik, dan pangan sebagai fondasi kedaulatan serta kesejahteraan masyarakat.
Menurut refleksi tersebut, kemandirian menjadi isu strategis bagi Bali dalam menghadapi ketidakpastian pasokan dan dinamika global. Kemandirian energi diperlukan untuk memperkuat ketahanan daerah, sedangkan kemandirian pangan harus diwujudkan melalui keberlanjutan sektor pertanian, perlindungan terhadap petani, serta pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Kedua aspek tersebut perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian alam sebagai sumber kehidupan.
Memaknai Candra dan Durga dalam Pembangunan Bali
Spiritualitas menjadi salah satu landasan penting dalam memahami arah pembangunan Bali. Dalam tulisan tersebut, simbol Dewi Candra dan Dewi Durga dimaknai sebagai refleksi nilai yang relevan bagi perjalanan pembangunan daerah.
Dewi Candra secara simbolis merepresentasikan cahaya, keteduhan, dan kesejahteraan. Nilai ini mengingatkan bahwa pembangunan seharusnya mampu menerangi kehidupan masyarakat melalui kebijakan yang memberikan manfaat nyata. Sementara itu, Dewi Durga merepresentasikan kekuatan transformatif dan perlindungan, yang mencerminkan keberanian menghadapi tantangan serta mengubah ketergantungan menjadi kemandirian.
Cahaya Candra memberikan arah, sedangkan kekuatan Durga meneguhkan langkah. Kedua simbol tersebut menjadi refleksi tentang pembangunan Bali yang tidak hanya maju secara material, tetapi juga kokoh secara budaya, adil secara sosial, dan lestari secara ekologis.
Dharma sebagai Landasan Pembangunan Berkelanjutan
Bagi Bali, pembangunan juga merupakan tanggung jawab dharma, yakni kewajiban moral untuk menjaga keseimbangan, memelihara kehidupan, dan mewariskan masa depan yang lebih baik kepada generasi berikutnya.
Dalam konteks tersebut, spiritualitas tidak seharusnya berhenti pada ritual dan simbol. Nilai-nilai spiritual perlu diwujudkan melalui kebijakan yang berpihak kepada masyarakat, keberanian dalam membangun kemandirian, serta tindakan nyata untuk melindungi alam dan melestarikan kebudayaan.
Refleksi ini menegaskan bahwa kesejahteraan sejati tidak dapat dibangun dengan mengorbankan sumber kehidupan. Kemajuan ekonomi perlu disertai tanggung jawab ekologis dan komitmen menjaga warisan budaya agar pembangunan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Bali.
Membangun Bali yang Berdaulat dan Bermartabat
Diskusi selama lima puluh menit tersebut menjadi titik refleksi atas pertanyaan mendasar mengenai sejauh mana Bali mampu menentukan masa depannya sendiri tanpa kehilangan jati diri. Bali memiliki warisan peradaban dan kebudayaan yang kuat. Tantangan ke depan adalah menerjemahkan kekuatan spiritual tersebut menjadi energi pembangunan yang nyata, terukur, dan berkelanjutan.
Gagasan ini mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menempatkan nilai-nilai dharma sebagai pedoman dalam merumuskan arah pembangunan, memperkuat kemandirian sebagai fondasi ketahanan, serta menjadikan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama.
Dengan demikian, spiritualitas bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber nilai yang dapat menuntun Bali menghadapi tantangan masa depan. Berangkat dari akar leluhur, Bali diharapkan terus tumbuh menjadi daerah yang berdaulat, lestari, dan bermartabat tanpa kehilangan identitas budayanya.
Integrity | Professionality | Humanity
Unmas Jaya! 💚
Sumber : Humas Unmas Denpasar